Home General News Indonesia Masih jadi Target Utama Malware
Indonesia Masih jadi Target Utama Malware

Demikian laporan dari Security Intelligence Review (SIR) Volume 22 yang dirilis Microsoft Asia Pasifik, Jumat, 8 September 2017.

Menurut Pimpinan Microsoft Asia Pasifik, Jepang & Australia, Antony Cook, satu dari empat komputer di Bangladesh, Kamboja dan Indonesia yang menjalankan produk keamanan real-time Microsoft, melapor adanya serangan malware antara Januari sampai Maret 2017.

Ketiganya bersama Myanmar, Vietnam, Nepal dan Thailand, melaporkan adanya serangan malware dengan rata-rata lebih dari 20 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.

Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sebesar sembilan persen.

"Di sisi lain, negara-negara di Asia Pasifik dengan level kematangan teknologi informasi, seperti Selandia Baru dan Singapura, memiliki performa yang lebih baik dibandingkan rata-rata global," kata dia.

Cook lalu mencontohkan salah satu serangan malware di Indonesia baru-baru ini, yaitu ransomware.

Pada paruh pertama tahun ini, dua gelombang serangan ransomware, yakni WannaCrypt dan Petya, memanfaatkan kerentanan pada sistem operasi Windows usang di seluruh dunia dan menonaktifkan ribuan perangkat dengan membatasi akses data secara tidak sah melalui enkripsi.

Cloud Rawan Serangan

Pelaku peretasan (hacker) mengevaluasi beberapa faktor saat menentukan wilayah mana yang harus ditargetkan seperti PDB suatu negara, usia rata-rata pengguna komputer, dan metode pembayaran yang tersedia.

"Bahasa juga dapat menjadi faktor pendukung utama karena serangan yang sukses sering kali bergantung pada kemampuan penyerang untuk melakukan personalisasi pada pesan untuk meyakinkan pengguna untuk mengaktifkan data berbahaya tersebut," jelas dia.

Seiring dengan meningkatnya migrasi cloud computing atau komputasi awan, maka menurut Cook, ini menjadi pusat data utama bagi sebagian besar organisasi.

Artinya, data berharga dan aset digital yang tersimpan di cloud membuatnya menjadi target bagi penjahat dunia maya.

Sebagian besar serangan terhadap akun konsumen dan perusahaan yang dikelola pada komputasi awan ini diakibatkan oleh kata kunci yang lemah dan dapat ditebak serta pengelolaan kata sandi yang buruk.

Lalu, diikuti oleh serangan phishing - bagian dari kegiatan hacker - yang ditargetkan dan pelanggaran layanan pihak ketiga.

"Seiring dengan frekuensi dan kecanggihan serangan terhadap akun pengguna pada komputasi awan yang meningkat, kebutuhan untuk pengamanan data melampaui kata sandi untuk otentikasi sangatlah diperlukan," tuturnya.

 

SUMBER

TimVIVA

VivaDigital

Dalam keterangan persnya, Senin (29/2/2016), pakar keamanan cyber Pratama Persadha menjelaskan bahwa sudah seharusnya pemerintah bersikap tegas. Menurutnya selama ini layanan over the top tak menghiraukan aturan hukum dan norma susila di Tanah Air.

“Maksud pemerintah ini bagus, kalau jelas bentuk badan usahanya di Tanah Air jadi jelas mereka harus patuh aturan hukum dan norma susila di Indonesia. Selain itu, mereka wajib bayar pajak seperti bentuk usaha di Tanah Air lainnya,” jelas Pratama.

Memang layanan OTT seperti Facebook banyak menimbulkan kecemburuan. Setidaknya dalam sebulan Facebook bisa meraup lebih dari Rp500 miliar, tanpa membayar pajak. Namun di luar masalah pajak, masalah keamanan dalam negeri juga sangat penting untuk diperhatikan.

“Konten media sosial dan layanan OTT ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai berlawanan dengan hukum dan norma susila di sini. Misalnya pornografi dan juga konten LGBT yang sedang ramai di Tanah Air,” terang chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Tumblr bahkan sudah mendapat peringatan untuk segera diblokir oleh pemerintah, karena banyaknya konten pornografi di sana. Masyarakat juga sedang diramaikan oleh kebijakan Facebook yang menghapus tulisan yang menentang LGBT bahkan Menhan Ryamizard Ryacudu sampai angkat bicara tentang bahaya LGBT.

“Kesulitan pemerintah menertibkan konten ini salah satunya juga karena adanya ratusan provider internet di Indonesia sehingga imbauan untuk memblokir konten tidak serta merta bisa langsung efektif,” terangnya.

 


DAILY CARTOON click to enlarge
ANDERTOONS.COM TECHNOLOGY CARTOONS