Home General News Ilmuwan Kembangkan Baterai Berbasis Air
Ilmuwan Kembangkan Baterai Berbasis Air

Penggunaan baterai lithium-ion pun mulai diperhatikan. Saat ini jenis baterai tersebut masih menjadi standar yang dipakai untuk smartphone, tetapi tetap tak menjamin perangkat akan aman dari ledakan.

Oleh karenanya, baru-baru ini sekelompok ilmuwan mencoba mengembangkan elektrolit baterai berbasis air. Solusi ini diyakini akan mampu menghasilkan baterai smartphone yang lebih aman dibandingkan lithium-ion.

Mengutip laman Ubergizmo, Sabtu (9/9/2017), para ilmuwan merealisasikannya menggunakan garam berkonsentrasi tinggi yang akan membantu menghasilkan lapisan pelindung elektroda. Dengan begitu, pelindung elektroda tersebut akan membantu elektroda menahan lebih banyak energi.

Sayangnya, saat ini baterai aman yang dimaksud masih dalam tahap perkembangan awal, sebab masalah utama baterai ini adalah elektrolitnya yang tidak bertahan lama. Disebutkan, jumlah pengisian baterai (proses charging) yang dapat dilakukan terhadap baterai ini hanya sekitar 70 siklus.

Artinya, jika sebuah perangkat menggunakan baterai dengan elektrolit berbasis air--yang lebih aman dibandingkan lithium-ion--hanya akan bisa bertahan selama kurang lebih 2 bulan. Sementara, baterai lithium-ion bisa bertahan untuk ratusan siklus pengisian daya.

Bisa dibilang, banyak perangkat masih akan tetap memilih baterai lithium-ion ketimbang baterai dengan elektrolit berbasis air karena terkait masa pakainya.

(Tin/Isk)

 

SUMBER

Agustin Setyo Wardani

Liputan6Tekno

Dalam keterangan persnya, Senin (29/2/2016), pakar keamanan cyber Pratama Persadha menjelaskan bahwa sudah seharusnya pemerintah bersikap tegas. Menurutnya selama ini layanan over the top tak menghiraukan aturan hukum dan norma susila di Tanah Air.

“Maksud pemerintah ini bagus, kalau jelas bentuk badan usahanya di Tanah Air jadi jelas mereka harus patuh aturan hukum dan norma susila di Indonesia. Selain itu, mereka wajib bayar pajak seperti bentuk usaha di Tanah Air lainnya,” jelas Pratama.

Memang layanan OTT seperti Facebook banyak menimbulkan kecemburuan. Setidaknya dalam sebulan Facebook bisa meraup lebih dari Rp500 miliar, tanpa membayar pajak. Namun di luar masalah pajak, masalah keamanan dalam negeri juga sangat penting untuk diperhatikan.

“Konten media sosial dan layanan OTT ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai berlawanan dengan hukum dan norma susila di sini. Misalnya pornografi dan juga konten LGBT yang sedang ramai di Tanah Air,” terang chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Tumblr bahkan sudah mendapat peringatan untuk segera diblokir oleh pemerintah, karena banyaknya konten pornografi di sana. Masyarakat juga sedang diramaikan oleh kebijakan Facebook yang menghapus tulisan yang menentang LGBT bahkan Menhan Ryamizard Ryacudu sampai angkat bicara tentang bahaya LGBT.

“Kesulitan pemerintah menertibkan konten ini salah satunya juga karena adanya ratusan provider internet di Indonesia sehingga imbauan untuk memblokir konten tidak serta merta bisa langsung efektif,” terangnya.

 


DAILY CARTOON click to enlarge
ANDERTOONS.COM TECHNOLOGY CARTOONS